Wednesday, 6 November 2013

Kehidupan Ekstrem Ditemukan di Palung Laut Terdalam


LONDON, KOMPAS.com — Ilmuwan menemukan adanya mikroba di Palung Mariana, bagian laut terdalam di Samudra Pasifik, mencapai kedalaman 11 kilometer. Temuan dipublikasikan di Nature Geoscience. Hasil penelitian tersebut mengejutkan. Selama ini, wilayah laut terdalam seperti Palung Mariana dianggap tidak mampu mendukung kehidupan. Wilayah ini punya temperatur sangat rendah dan tekanan mencapai 1.100 kali lebih besar dari permukaan lautan.

Dengan temuan ini, Robert Turnewitsch, pemimpin tim peneliti dari Scottish Association for Marine Science, mengatakan, "Bagian terdalam lautan dengan pasti bukan merupakan zona mati."
Adanya mikroba di Palung Mariana ditemukan secara tidak langsung. Pada tahun 2010, ilmuwan mengirim wahana tanpa awak ke dasar laut dan menganalisis metabolisme wilayah tersebut. Ilmuwan menemukan tingkat konsumsi oksigen yang tinggi di lautan.

"Mikroba ini bernapas seperti kita. Tingkat konsumsi oksigen secara tidak langsung menyatakan aktivitas komunitas itu," kata Turnewitsch seperti dikutip BBC, Senin (18/3/2013)
Peneliti menemukan fakta mengejutkan. Mikroba di laut terdalam ini dua kali lebih aktif dibandingkan yang berada di kedalaman 6 kilometer. Para peneliti belum mengetahui sebab dari hal tersebut.
Menurut peneliti, mikroba di laut terdalam itu memanfaatkan bahan organik yang jatuh ke laut dalam sebagai sumber energi.

Senyawa organik yang terkirim ke dasar lautan dikatakan cukup tinggi. Turnewitsch mengungkapkan bahwa berdasarkan fakta tersebut, laut dalam dan mikroba yang ada di dalamnya berperan besar dalam menyimpan karbon.

Palung Mariana terletak di zona subduksi di mana gempa sering terjadi. Ketidakstabilan geologis ternyata justru membantu arus nutrisi di wilayah itu. Akhirnya berdampak pada mikroba.

Penemuan ini menunjukkan bahwa mikroba bisa hidup di mana saja. Jika mikroba bisa hidup di wilayah ekstrem seperti Palung Mariana, boleh jadi mikroba juga bisa hidup di wilayah ekstrem lainnya, seperti di planet lain.

Hunter Moon Dan Hujan Meteor Orionid 2013


Bulan purnama Oktober (Hunter’s Moon) terjadi pada tanggal 18-19 Oktober 2013.Fenomena itu merupakan kabar buruk bagi penggemar hujan meteor.Pasalnya,Hunter’s Moon terjadi hanya beberapa hari sebelum tanggal perkiraan puncak hujan meteor Orionid.Puncak hujan meteor Orionids akan terjadi dari tengah malam sampai fajar pada tanggal 20-22 Oktober dan diperkirakan cahaya Bulan akan sedikit memudar karena memasuki fase Bulan cembung.Namun ada Bulan atau tidak,hujan meteor Orionid paling diharapkan jatuh pada larut malam sebelum fajar pada hari Senin, 21 Oktober.

Waktu Terbaik Melihat Hujan Meteor Orionids

Waktu terbaik untuk melihat meteor Orionid antara tengah malam (pukul 01:00) sampai waktu fajar tanggal 20, 21 dan 22 Oktober 2013.Waktu terbaik tersebut berlaku pada semua zona daerah dunia.Tapi tahun 2013 ini,anda mungkin tidak dapat melihat banyak meteor karena cahaya bulan yang terang akan mengganggu.Namun anda masih mungkin melihat lesatan meteor yang terang dibawah sinar bulan.

Titik Pancaran Hujan Meteor Orionids

Titik Pancaran Hujan Meteor Orionids terletak dari bawah bintang Betelguese di rasi Orion si Pemburu dan bergerak sangat cepat dibanding meteor lainnya. Diperkirakan untuk para pengamat di langit selatan,  waktu yang pas untuk menikmati hujan meteor Orionid ini berkisar antara pukul 00.00 – 05.00 wib ketika Rasi Orion sudah berada cukup tinggi di atas horison dan bisa dilihat datang dari arah Timur Laut.

Planet Yang Terlihat Saat Hujan Meteor Orionids 2013

Planet Jupiter terbit di timur pada larut malam, dan planet Mars juga terbit di timur setelah tengah malam.Jupiter akan muncul dekat dua bintang terang rasi Gemini,Castor dan Pollux sedangkan planet Mars bersinar dekat dengan Regulus, bintang paling terang di konstelasi Leo.

Darimana Asal Hujan Meteor Orionids?

Bumi melintasi orbit Komet Halley setiap tahun pada bulan Oktober. Meteor Orionids berasal dari puing-puing komet ini yang masuk atmosfer bumi dan menguap saat jatuh.

Berapa Banyak Meteor Yang Akan Terlihat Pada Hujan Meteor Orionids 2013?

Jumlah meteor yang akan Anda lihat dalam hujan meteor sangat bervariasi,tergantung pada kapan dan di mana Anda melihatnya. Hujan meteor tidak sepenuhnya dapat diprediksi.Pada malam di saat bulan tidak nampak,anda dapat melihat sekitar 25 meteor per jam, atau satu meteor setiap beberapa menit, selama puncak Orionid.Jangan biarkan bulan meredam semangat Anda.

DESKRIPSI MINERAL BERDASARKAN SKALA MOHS

TALK


Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: Mg3Si4O10(OH)2
Komposisi: Hydrated Magnesium Silicate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, abu keputihan, kuning keputihan, coklat kekuningan, hijau pucat
Kristal Habit: Foliated, fibrous
Kilap: Non Logam ( Vitreous, greasy, waxy, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 1 arah
Kekerasan: 1 skala mohs
Tenacity: Sectile
Transparansi: Transparan, opaque
Pecahan: Uneven
Density: 2,78
Genesis: Ditemukan di batuan metamorf jenis ultrabasa. Banyak pula ditemukan pada alterasi hidrothermal.

GYPSUM

Kategori: Mineral Sulfat
Rumus Kimia: CaSO4 · 2H2O
Komposisi: Calcium Sulfate Dihydrate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, Bening, Transparan
Kristal Habit: Tabular, Masif
Kilap: Non Logam ( Vitreous, silky, waxy, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 2 arah
Kekerasan: 2 skala mohs
Tenacity: Sectile, flexible
Transparansi: Transparan, opaque, Translucent
Pecahan: Uneven, Splintery, Choncoidal
Density: 2,3
Genesis: Deposit sedimen hasil evaporasi

KALSIT

Kategori: Mineral Carbonate
Rumus Kimia: CaCO3
Komposisi: Calcium Carbonate
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, Bening, Transparan
Kristal Habit: Granular
Kilap: Non Logam ( Vitreous, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 3 arah
Kekerasan: 3 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, opaque, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 2,7
Genesis: Dapat ditemukan baik di batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf.

FLUORITE

Kategori: Mineral Halide
Rumus Kimia: CaF2
Komposisi: Calcium Fluoride
Sistem Kristal: Isometric
Warna: Putih, pink, ungu, merah, biru.
Kristal Habit: Granular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 4 arah
Kekerasan: 4 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 3,3
Genesis: Dapat ditemukan baik di batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf.

APATITE 

Kategori: Mineral Phospate
Rumus Kimia: Ca5(PO4)3(F,Cl,OH)
Komposisi: Calcium Fluoro-chloro-hydroxyl Phospate
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 
Kekerasan: 5 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 3,2
Genesis: ditemukan dalam asosiasi dengan pegmatite

ORTHOKLAS

Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: KAlSi3O8
Komposisi: Potassium Alumunium Silicate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 2 arah
Kekerasan: 6 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal, uneven
Density: 2,6
Genesis: banyak ditemukan pada granit dan batuan beku asam lainnya.

KUARSA

Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: SiO2
Komposisi: Silicon Dioxide
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: tidak ada
Kekerasan: 7 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 2,6
Genesis: banyak ditemukan pada granit dan batuan beku asam lainnya, batuan metamorf dan pada batuan sedimen.

TOPAZ


Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: Al2SiO4(F,OH)2
Komposisi: Alumunium Fluoro-hydroxyl Silicate
Sistem Kristal: Orthorhombic
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Tidak berwarna
Belahan: 
Kekerasan: 8 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Subchoncoidal
Density: 3,5
Genesis: Topaz berasosiasi dengan batuan beku asam seperti granit dan rhyolit

KORUNDUM

Kategori: Mineral Oksida
Rumus Kimia: Al2O3
Komposisi: Alumunium Oxide
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: Tidak ada
Kekerasan: 9 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Uneven
Density: 4,0
Genesis: Corundum berasosiasi dengan batuan miskin silika (felspatoid).

INTAN

Kategori: Mineral Native
Rumus Kimia: C
Komposisi: Carbon
Sistem Kristal: Isometric
Warna: Bening
Kristal Habit: Octahedral
Kilap: Adamantine
Cerat: Tidak berwarna
Belahan: 
Kekerasan: 10 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Chonchoidal
Density: 3,5
Genesis: Kimberlite rocks

Fenomena Hujan Meteor di Tahun 2013

Fenomena Hujan Meteor di Tahun 2013 - ini terjadi di awal pembukaan tahun baru. Fenomena Hujan meteor jatuh ini bersifat tahunan dinamakan Quadrantid dan bisa jadi fenomena yang indah . Quadrantid adalah hujan meteor dengan aktivitas yang tinggi (120 meteor / jam). Dari berbagai berita terbaru, biasanya terjadi setiap tahun antara tanggal 1 hingga 5 Januari, dan akan mencapai  puncaknya sekitar malam 3 Januari. 

Untuk melihat hujan meteor jatuh ( meteor shower ), kita tidak perlu menggunakan teleskop atau teropong. Agar terlihat jelas, carilah di tempat yang tinggi dan jauh dari lampu. Jadi kalau kamu melihatnya di tengah kota yang banyak lampu, mungkin pemandangan ini terlihat tidak begitu bagus. Para astronom dan pengamat memprediksi dalam fenomena ini setidaknya ada 60 hingga 200 meteor yang jatuh per jam. Rata – rata sekitar 120 ( seratus dua puluh).

Meteor adalah partikel kecil dari batu dan logam yang berjalan pada orbitnya mengelilingi matahari. Hujan meteor atau biasanya orang menyebutnya bintang jatuh, pada umumnya terjadi ketika Bumi melintasi dekat orbit sebuah komet dan melalui serpihannya. Meteoroid memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi. Serpihan yang bisa mencapai ke permukaan Bumi dinamakan meteorit. 

Fenomena yang terjadi pada hujan meteor awal tahun 2013
Agar terlihat, meteor harus berada dalam sekitar 120 mil (200 kilometer) dari pengamat.
Meteor terlihat pada ketinggian rata-rata 55 mil (90 km). Hampir semua terbakar sebelum mencapai ketinggian 50 mil (80 km).
Meteor terang yang khas menghasilkan partikel dengan massa yang kurang dari 1 gram dengan tidak lebih besar dari kacang.
Meteoroid memasuki atmosfer dengan kecepatan antara 50.000 dan 165.000 mph (265.000 81.000 km / h).


Fenomena lainnya pada bulan – bulan terentu di tahun 2013
Quadrantid     malam 3 Januari    
Lyrids     malam tanggal 21 April    
Eta Aquarids     malam 5 Mei     
Perseids     malam 11 Agustus   
Orionids     malam tanggal 20 Oktober    
Leonids     malam tanggal 17 November    
Geminids     malam tanggal 13 Desember


Sumber: Astronomy.Com

Galaksi Bimasakti

Bima Sakti (dalam bahasa Inggris Milky Way, yang berasal dari bahasa Latin Via Lactea, diambil lagi dari bahasa Yunani Γαλαξίας Galaxias yang berarti "susu") adalah galaksi spiral yang besar termasuk dalam tipe Hubble SBbc dengan total masa sekitar  massa matahari, yang memiliki 200-400 miliar bintang dengan diameter 100.000 tahun cahaya dan ketebalan 1000 tahun cahaya.[1] Jarak antara matahari dan pusat galaksi diperkirakan 27.700 tahun cahaya. Di dalam galaksi bimasakti terdapat sistem Tata Surya, yang didalamnya terdapat planet Bumi tempat kita tinggal. Diduga di pusat galaksi bersemayam lubang hitam supermasif (black hole). Sagitarius A dianggap sebagai lokasi lubang hitam supermasif ini. Tata surya kita memerlukan waktu 225–250 juta tahun untuk menyelesaikan satu orbit, jadi telah 20–25 kali mengitari pusat galaksi dari sejak saat terbentuknya. Kecepatan orbit tata surya adalah 217 km/d.

Di dalam bahasa Indonesia, istilah "Bimasakti" berasal dari tokoh berkulit hitam dalam pewayangan, yaitu Bima. Istilah ini muncul karena orang Jawa kuno melihatnya susunan bintang-bintang yang tersebar di angkasa jika dihubungkan dan ditarik garis akan membentuk gambar Bima dililit ular naga maka disebutlah "Bimasakti". Sementara itu, masyarakat Barat menyebutnya "milky way" sebab mereka melihatnya sebagai pita kabut bercahaya putih yang membentang pada bola langit. Pita kabut atau "aura" cemerlang ini sebenarnya adalah kumpulan jutaan bintang dan juga sevolume besar debu dan gas yang terletak di piringan/bidang galaksi. Pita ini tampak paling terang di sekitar rasi Sagitarius, dan lokasi tersebut memang diyakini sebagai pusat galaksi.

Diperkirakan ada 4 spiral utama dan 2 yang lebih kecil yang bermula dari tengah galaksi. Dan dinamakan sebagai berikut:
Lengan Norma
Lengan Scutum-Crux
Lengan Sagitarius
Lengan Orion atau Lengan Lokal
Lengan Perseus
Lengan Cygnus atau Lengan Luar
Dimensi[sunting sumber]

Cakram bintang Bima Sakti kira kira berdiameter 100.000 tahun cahaya (9.5×10^17 km), dan diperkirakan rata rata mempunyai ketebalan 1000 tahun cahaya (9.5×10^15 km). Bima Sakti diestimasikan mempunyai setidaknya 200 miliar bintang[2] dan mungkin hingga 400 miliar bintang[3]. Angka pastinya tergantung dari jumlah bintang bermassa rendah, yang sangat sulit dipastikan. Melebihi bagian cakram bintang, terletak piringan gas yang lebih tebal. Observasi terakhir mengindikasikan bahwa piringan gas Bima Sakti mempunyai ketebalan sekitar 12.000 tahun cahaya (1.1×1017 km) - sebesar dua kali nilai yang diterima sebelumnya. Sebagai panduan ukuran fisik Bima Sakti, sebagai misal kalau diameternya dijadikan 100 m, Tata Surya, termasuk awan oort, akan berukuran tidak lebih dari 1 mm.

Cahaya galaksi memancar lebih jauh, tapi ini dibatasi oleh orbit dari dua satelit Bima Sakti yaitu Awan Magellan Besar dan Kecil (the Large and the Small Magellanic Clouds), yang memiliki perigalacticon kurang lebih 180.000 tahun cahaya (1.7×1018 km). Pada jarak ini dan lebih jauh selanjutnya, orbit-orbit dari obyek sekitar akan didisrupsi oleh awan magelan, dan obyek obyek itu kemungkinan besar akan terhempas keluar dari Bima Sakti.

Perhitungan terakhir oleh teleskop Very Long Baseline Array (VLBA) menunjukkan bahwa ukuran Bima Saki adalah lebih besar dari yang diketahui sebelumnya. Ukuran Bima Sakti terakhir sekarang dipercaya adalah mirip seperti tetangga galaksi terdekat, galaksi Andromeda. Dengan menggunakan VLBA untuk mengukur geseran daerah formasi bintang-bintang yang terletak jauh ketika bumi sedang mengorbit di posisi yang berlawanan dari matahari, para ilmuwan dapat mengukur jarak dari berbagai daerah itu dengan assumsi yang lebih sedikit dari usaha pengukuran sebelumnya. Estimasi kecepatan rotasi terbaru dan lebih akurat (yang kemudian menunjukan dark matter yang terkandung di dalam galaksi) adalah 914,000 km/jam. Nilai ini jauh lebih tinggi dari nilai umum sebelumnya 792,000 km/jam. Hasil ini memberi kesimpulan bahwa total masa Bima Sakti adalah sekitar 3 triliun bintang, atau kira kira 50% lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

10 Fenomena Langit yang Mengagumkan

1. Pelangi Api di Idaho
Femonena atmosfer yang dikenal dengan circumhorizon arc atau Fire Rainbow (pelangi api), akan muncul ketika matahari berada tinggi (lebih dari 58 derajat diatas horizon). Cahaya matahari menembus lurus dan menyinari awan cirrus, sehingga menghasilkan semacam lempengan kristal segi enam dan membentuk efek prisma. Sehingga terlihat pelangi yang berbentuk seperti api.

2. Matahari Kembar di Antariksa
Munculnya matahari kembar atau matahari baru menjadi perhatian para ilmuwan saat ini. ‘Matahari kembar’ ini tertangkap Teleskop Herschel dan disebut-sebut sebagai matahari baru, diperkirakan ukurannya akan lebih besar dibanding dengan matahari yang sekarang

3. Badai Api di Brazil
Fenomena Aneh, Badai Api di Brazil – Di Sao Paolo Brasil yang dilanda kemarau panjang serta angin yang kencang meyebabkan kebakaran. Kondisi ini menyulut terjadinya badai tornado langka di kota barat laut Aracatuba. Fire tornado atau badai tornado api yang dalam bahasa sehari-hari penduduk setempat disebut sebagai setan api, hal ini terjadi ketika api berada di kolom udara yang berputar ke arah vertikal. Beberapa kejadian ketinggian dari ‘badai api’ ini bisa mencapai setengah mil dengan kecepatan angin lebih dari 100 mph. Fenomena aneh ini sendiri sangat jarang terjadi.

4. Bulan Kembar di Jakarta
Fenomena Aneh – ‘Bulan kembar’ di langit malam pertengahan bulan Ramadhan menjadi hiasan yang unik. Dari wilayah sekitar Jakarta bercuaca terang, dan setelah Purnama kemarin seakan-akan ‘bulan kembar’ ditemani terangnya Yupiter dan Venus. 2 planet yang tergolong paling terang di banding bintang-bintang lain. Fenomena ini seakan-akan membuat bulan menjadi 2. Walaupun tentu saja purnama lebih terang cahayanya nampak dari bumi kita.

5. 4 Matahari di China
’4 matahari di China’ telah membuat gempar setelah sebelumnya ada fenomena aneh lainnya seperti langit terbelah dan matahari kembar. Benarkah ’4 matahari muncul bersamaan di daerah China’ ini adalah tanda-tanda alam akan terjadi sesuatu yang besar? Menurut LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) hal ini adalah biasa.
Kejadian ini biasanya disebut sundog, yaitu pembiasan cahaya matahari oleh kristal es. Biasanya cahaya matahari kembar ini lebih kecil dan berada di kanan dan kiri dari posisi matahari yang asli. Sundogs dibentuk oleh pelat-kristal es berbentuk heksagonal di awan cirrus tinggi yang dingin dan melayang dimana udara pada tingkat yang rendah saat itu. Jadi pembiasan ini lah yang menyebabkan cahaya ’4 matahari di China’ tersebut.

6. Langit Terbelah di Jogja
enomena alam yang aneh ini ada yang mengkaitkan dengan peristiwa yang baru saja terjadi yaitu gempa Jogja. Tapi peristiwa ‘langit terbelah di Jogja’ ini terjadi pada 11 Juni 2010 lalu sempat membuat warga menjadi panik.
Ini menunjukkan kebesaran Allah SWT atau ada pertanda khusus, misalnya musibah yang akan terjadi. Cahaya terang berwarna biru menyerupai cahaya dari sebuah senter raksasa yang membelah langit jingga di atas kota Jogja.

7. Awan Naga di Papua
Setelah langit terbelah di Jogja ada fenomena aneh lainnya yaitu awan naga yang menjadi perhatian warga Kota Jayapura, Papua. Sebenarnya mungkin hanya kebetulan saja, awan yang menyerupai naga. Sebentang awan dengan warna kemerahan ini melintang di langit, dan salah seorang yang menyaksikannya sempat mengabadikannya.
Sekumpulan awan kemerahan yang menyerupai bentuk seekor naga itu nampak meliuk-liuk, kejadian sekitar pukul 17.30 WIT (21/8/2010). Penampakan awan naga ini berlangsung kurang lebih selama 5 menit.

8. Badai Abadi di Venezuela
Fenomena “Relámpago del Catatumbo” atau “Petir Catatumbo” adalah suatu fenomena alam yang aneh. Lokasinya di mulut sungai Catatumbo di Danau Maracaibo (Venezuela), fenomena ini berwujud halilintar atau petir di langit yang tingginya lebih dari 5 kilometer dan terjadi selama 140 hingga 160 di malam-malam dalam setahun, 10 jam dalam satu malam, dan sebanyak 280 kali perjam-nya. Badai yang hampir permanen ini terjadi di atas dataran tanah rawa dimana aliran sungai Catatumbo mengisi danau Maracaibo. Fenomena ini diperkirakan merupakan pembentuk tunggal terbesar lapisan ozone di bumi, melihat intensitas dan frekuensinya yang tinggi.

9. Fenomena Mata Langit di Besakih
Media Lokal, Rabu (29/4) ini memberitakan bahwa foto awan bertentuk gambaran wajah lengkap dengan mata mendelik beredar di HP warga Karangasem. Foto tersebut berupa awan biru dengan hamparan awan putih berbentuk sekilas wajah kepala dengan dua mata mendelik serta bagian hidung menampakkan semburan awan.
Gambar itu pertamakalinya disebutkan diambil menjelang senja oleh seorang penekun spiritual yang kebetulan pedek tangkil (Sembahyang) ke Pura Besakih pada H-1 menjelang prosesi Melasti Karya Agung Panca Bali Krama dan Betara Turun Kabeh.

10. Bibir Merah di Antariksa
Fenomena luar angkasa unik tertangkap oleh peralatan canggih Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Seperti dimuat laman Daily Mail, bentuknya seperti bibir merah dalam posisi siap untuk mencium. Bentu aneh ini tertangkap peralatan terbaru milik NASA, Wide-field Infrared Survey Explorer (Wise) yang diluncurkan pada tahun 2009.
Titik putih di tengah bibir merah adalah salah satu bintang terbesar yang menghuni Galaksi Bima Sakti.

Tata Surya Memiliki Ekor?


KOMPAS.com — Astronom berhasil mengungkap foto ekor Tata Surya atau heliotail untuk pertama kali. Ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa ekor Tata Surya punya bentuk mirip empat daun semanggi.
Wajah Tata Surya tersebut berhasil diungkap dengan Interstellar Boundary Explorer (IBEX), wahana antariksa yang diluncurkan pada tahun 2008, bertugas untuk mempelajari lingkungan tepian Tata Surya.

"Ilmuwan selalu menduga bahwa heliosphere memiliki ekor," kata Eric Christian, peneliti pada misi IBEX dari Goddard Space Flight Center di Greenbelt dalam Google+ Hangout untuk mengumumkan penemuan tersebut, Rabu (10/7/2013).


"Namun, ini pertama kalinya data nyata yang kami miliki berhasil mengungkap bentuk ekor Tata Surya tersebut," tambah Christian seperti dikutip Space, Rabu.


David McComas, pimpinan misi IBEX, mengatakan, ekor Tata Surya memanjang di belakang heliosphere, gelembung di sekitar Tata Surya yang terbentuk oleh angin Matahari dan medan magnet Matahari, yang berbentuk seperti peluru.


McComas yang merupakan ilmuwan dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas, mengungkapkan bahwa heliotail memiliki ukuran lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan.


Walaupun demikian, belum diketahui secara pasti ukuran heliotail tersebut. Diperkirakan,heliotail memanjang hingga 1000 kali jarak Bumi-Matahari (Jarak Bumi-Matahari adalah 149,6 juta kilometer).


Menurut ilmuwan, heliotail punya bentuk empat daun semanggi karena dipengaruhi oleh angin Matahari cepat yang meluncur dari kutub Matahari dan angin Matahari lambat yang meluncur dari khatulistiwa bintang di Tata Surya itu.


Angin Matahari adalah aliran partikel bermuatan yang berasal dari atmosfer Matahari. Angin Matahari mayoritas tersusun atas proton dan elektron.


Bentuk heliotail tidak benar-benar segaris dengan Tata Surya, mengindikasikan bahwa ekor Tata Surya tersebut dipengaruhi oleh medan magnet galaksi lokal.
Bentuk ekor Tata Surya ini diperoleh setelah observasi 3 tahun dengan IBEX. Ini membuktikan bahwa Tata Surya benar-benar memiliki ekor. Ke depan, ilmuwan berencana meneliti pengaruh siklus Matahari pada perubahan bentuk heliotail.